Memetik Pelajaran Berharga Dari Si Doel Anak Sekolahan

sejarah si deol
"Wal tandhur nafsun maa qoddamat lighod :
Perhatikan masa lalu mu (Sejarah) untuk masa Depan mu"
Fakta hari ini dapat kita lihat masyarakat Indonesia pada umumnya terutama generasi milenial lebih menyukai drama Korea ketimbang sinetron dalam negeri, dan lebih menyukai film Hollywood dan Bollywod ketimbang film buatan dalam negeri. Tak heran jika kearifan lokal bangsa ini sudah mulai terakulturasi dengan budaya luar yang sering mereka tonton.

Masyarakat menilai terkadang film produksi anak bangsa terlihat nyeleneh dan kadang aneh tak masuk di akal, alur cerita dan karakter pemainnya terkadang membuat masyarakat Indonesia kebingungan bahkan enggan untuk menonton film produksi dalam negeri. Meskipun demikian, tek semua film produksi Indonesia memiliki hasil yang buruk, ada juga beberapa di antaranya yang sukses menjadi Idola. Seperti misalnya film Dilan 1990.

Pada saat publik pecinta film tanah air mulai gelisah dengan kualitas film tanah air, kini kita akan disuguhkan kembali film produki dalam negeri yang mengambil latar atau tempat syuting di Amsterdam Belanda. Tentu kita semua mudah untuk menebaknya, apalagi beritanya sangat masif baik di media sosial maupun di media konvensional.

Si Doel The Movie, inilah film yang tepat hari ini (02/08/18) akan di putar secara serentak di bioskop tanah air. Pasca kalah dalam pertarungan politik memperebutkan Banten 1, sang sutradara sekaligus pemeran utama Si Doel banting setir melanjutkan kisah cintanya yang hilang. Tentu generasi yang lahir antara tahun 1980 hingga 2000 atau dapat disebut sebagai generasi milenial menantikan kelanjutan kisah cinta atau pelabuhan cinta Si Doel.

Si Doel The Movie merupakan kelanjutan sinetron Si Doel Anak Sekolahan, sedikit flashback, sinetron Si Doel Anak Sekolahan adalah sinetron Indonesia yang pertama kali ditayangkan oleh stasiun TV RCTI pada tahun 1994. Sinetron ini berkisah mengenai kehidupan Doel dan keluarganya, keluarga Betawi yang tetap mempertahankan nilai-nilai luhur dan nilai-nilai tradisional meskipun hidup di tengah-tengah arus perkotaan dan modernisasi. 

Selain Rano Karno sebagai pemeran utama, sinetron ini juga dibintangi oleh Maudy Koesnaedi (Zaenab), Cornelia Agatha (Sarah), Beyamin S (Ayah Doel) Aminah Cendrakasih (Ibu Doel), Zaitun (Atun/Adik Doel), dan Mandra (Paman Doel) .

Sinetron ini terdiri dari 162 episode dan 7 musim. Si Doel Anak Sekolahan ketika pertama ditayangkan melejit menjadi salah satu acara paling terkenal dan mengalahkan popularitas produksi-produksi asing yang saat itu mendominasi televisi Indonesia. 

Sinetron ini ditayangkan secara estafet atau sistem bersambung sebagaimana ciri khas sinetron Indonesia hingga kini. Namun yang membuat berbeda setiap episodenya sinetron Si Doel Anak Sekolahan Sangat dinanti-nantikan.

Banyak pelajaran yang dapat di petik dari sinetron ini, dimana cita-cita Doel yang ingin menjadi seorang Insiyur atau lulusan sarjana teknik mesin di sebuah Universitas di Jakarta benar-benar ia wujudkan dengan kerja kerasnya, sembari kuliah ia juga narik Oplet transportasi umum khas Jakarta. 

Dengan rendah hati ia juga mau bergantian dengan paman nya yaitu Mandra adik dari Ibunya yang masih menganggur. Mahal nya biaya kuliah membuat Doel mencari kerja sampingan. Meskipun temannya mau membantu biaya kuliah nya namun Doel selalu menolak. Bahkan Ayahnya harus rela jual tanah demi bayar kuliah Doel.

Kemudian yang patut kita acungi empat jempol dari sinetron ini mengenai etika, sopan santun dari setiap karakter pemainnya. Mulai dari cara berpakaian, budaya tolong menolong, saling sapa, bersalaman dengan mencium tangan kepada orang yang lebih tua, tidak membantah perintah orang tua, berpacaran sewajarnya,  dan menyembunyikan kekesalan kepada seseorang serta sopan santun lainnya yang selalu dipertontonkan dalam adegan sinetron ini.

Jelas berbeda dengan sinetron masa kini seperti misalnya sinetron anak langit, dimana norma sopan santun telah hilang, cara berpakaian, cara komunikasi, cara menghargai orang yang lebih tua sudah terlihat bukan jati diri bangsa Indonesia. 

Bahkan banyak adegan yang tidak etis dan sangat berbahaya jika ditonton anak-anak, seperti membantah orang tua, suka memotong pembicaraan orang lain, asal nylonong tanpa permisi, salam atau bahkan mencium tangan, suka keluyuran malam, suka berantem, suka ugal-ugalan di jalan, da perbuatan atau adegan menyimpang lainnya yang sering dipertontonkan.

Kemudian pelajaran lainnya yang dapat kita petik dari sinetron Si Doel adalah ketika Si Doel lulus kuliah dan secara resmi menyandang gelar akademik sebagai insinyur atau sarjana Teknik Mesin. Meskipun pada saat itu jumlah insinyur tak banyak dan migrasi ke Jakarta juga belum separah saat ini, Si Doel terlihat kesulitan mencari kerja, ada beberapa perusahaan yang memaggilnya wawancara namun ia juga gagal. Kendati gagal terus Doel tak patah arang ia tetap terus mencari kerja.

Bahkan Doel sempat keterima kerja di perusahaan besar di luar Jakarta, namun Ayah Doel yang diperankan Almarhum Benyamin melarangnya. Sebab Benyamin khawatir Si Doel lupa dengan jati diriya sebagai orang betawi, apalagi pada saat itu gelombang migrasi dari daerah ke Jakarta sudah mulai tinggi. Sebenarnya dengan sopan, Doel berusaha menjelaskan kepada ayahnya, namun sekali tidak tetap tidak, itu sifat orang betawi yang tidak mau budaya betawi hilang dari peradaban.

Kesulitan mencari kerja ternyata masih dirasakan hingga kini, faktanya banyak sarjana atau yang bergelar setara dengan Doel masih menganggur. Keresahan 23 tahun lalu terkait sulitnya mencari kerja ternyata masih dapat dirasakan hingga kini meskipun sudah 5 kali ganti presiden, bahkan bisa jadi tahun depan akan ganti presiden lagi.

Melihat Doel kesulitan mencari kerja, Ayah Doel juga ikut gelisah, kendati demikian ia tetap mensupport Doel agar berusaha lebih keras bahkan menyeru agar Doel bisa jadi Gubernur, dengan demikian rakyat tidak akan kesulitan mencari kerja. Namun tak disangka dalam dunia nyata Doel benar-benar jadi Gubernur tapi bukan Gubernur Jakarta melainkan Gubernur Banten. Meskipun pada periode kedua ia gagal menjadi Gubernur Banten kembali.

Pada akhir-akhir episode, Doel harus rela kehilangan ayahnya yang meninggal untuk selamanya. Kini Doel menjadi tulang punggung keluarganya yang harus meghidupi Ibu dan Adiknya si Atun termasuk Mandra pamannya. Ia juga akhirnya keterima kerja menjadi orang kantoran atas rekomendasi Sarah. Namun adanya permainan yang tidak sehat dan tidak jujur dalam perusahaan tersebut membuat Doel yang selalu jujur dan apa adanya memilih mundur.

Doel juga tidak takut jika ia harus kehilangan pekerjaan, tentu berbeda dengan karyawan kantoran masa kini, jika ada praktek demikian pasti memilih mendiamkan dari pada ia keluar dan tidak mendapatkan pekerjaan lagi. Atas kejujuran dan kesabarannya Doel keterima kerja di tempat lain, bahkan ia juga di kirim ke Perancis untuk tiga bulan lamanya. Ada pesan moral dan hal yang menarik ketika Doel hendak berpisah dengan keluarganya meskipun hanya tiga bulan.

Ketika Doel berpamitan Engkong Ali atau kakek Doel yag ikut mengantar Doel ke Bandara hanya berpesan “jangan lupa sembahyang”, perkataa ini ia ucapkan berkali kali agar ketika Doel di Perancis nanti tidak lupa Sholat. 

Hal ini juga dialami penulis, ketika penulis pergi ke pesantren dan setelah itu melanjutkan kuliah di pulau sebrang, Ayah penulis selalu berpesan dan mengingatkan Sholat. hal ini tentu berbeda dengan kebanyakan orang tua, pada umumnya yang lebih banyak mengingatkan kesehatan. Memang kesehatan juga penting namun sholat juga adalah hal yang paling penting.

Pada akhir sinetron Si Doel Anak Sekolahan, Doel lebih memilih Sarah dari pada Zaenab, Zaenab adalah sosok gadis yang sudah lama dijodohkan oleh kedua orang tuanya, meskipun Zaenab menaruh hati pada Doel namun ia memilih memendam rasa. Ternyata kelanjutan kisah cinta Doel akan berlanjut pada film layar lebar Si Doel The Movie, dimana film ini sudah mulai di putar secara serentak di bioskop seluruh Indonesia.
Melihat dari trailer dan sinopsis yang telah tersebar luas, nampaknya film ini tidak kembali menunjukan ciri khas karakter para pemainnya sebagaimana karakter yang diperankan pada sinetron Si Doel Anak Sekolahan. 

Hal ini juga diakui Rano Karno jika memang ada perubahan karakter. Dimana penulis menduga karakter budaya asli Indonesia khususnya betawi akan tergantikan dengan budaya negara yang sudah menjajah Indonesia 3,5 Abad, apalagi film ini kebanyakan syuting di Belanda.

Dimana sosok Si Doel yang pergi ke Belanda untuk mencari Sarah, padahal Si Doel telah ditinggal Sarah 14 tahun tanpa kabar dan kini statusnya juga adalah suami Zaenab. Tentu akan menarik, apakah akan mempertontonkan poligami yang kerap menjadi kontraversi di Indonesia, atau apakah akan menampilkan adegan Pelakor atau pencuri laki orang? Sekali lagi menarik untuk kita simak akhir kisah cinta Doel.

Semoga jika kita lihat hingga selesai, kearifan lokal atau local wisdom bangsa Indonesia terutama budaya betawi masih di tonjolkan dalam film ini, meskipun film ini banyak mengambil latar syuting di negara kincir angin. Kepada penonton juga penulis berpesan agar menjadi penonton yang cerdas untuk dapat mengambil pelajaran penting di dalamnya.
Baca Juga: 
Akhirnya punilis pun berharap film Si Doel The Movie ini harus dijadikan sinetron kembali dengan mengedepankan karakter yang sama pada setiap pemerannya. Mmberikan edukasi bagaimana beradab, beretika, dan berprilaku sebagaimana jati diri bangsa Indonesia. Dengan begitu diharapkan mampu mengcounter sinetron yang semakin hari tidak mendidik dan merusah moral anak bangsa. 

Jangan sampai guru bertahun-tahun mendidik generasi anak bangsa, namun dengan sekejap dapat di rusak oleh adegan yang tidak mendidik. Meminjam kalimat Ustadz Abdul Somad Sinetron Si Deoel The Movie harus menjadi sulush di tegah kelam, setets embun di tengah sahara.

Author : Hady Nurjaya

0 Response to "Memetik Pelajaran Berharga Dari Si Doel Anak Sekolahan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel