Memaknai Sejarah Hari Raya Waisak

Sejarah Hari Raya Waisak
Sejarah Hari Raya Waisak – Bangsa Indonesia patut bangga terhadap kemajemukan yang telah ada jauh sebelum Indonesia merdeka. Meskipun berbeda-beda tapi tetap satu, itulah kalimat yang selalu menguatkan toleransi di Indonesia. Bahkan di setiap hari suci atau hari raya umat beragama di Indonesia, pemerintah menghadiahi tanggal merah.

Itu artinya semua karyawan atau pegawai berhak libur bekerja begitu pun para pelajar. Hal tersebut dilakukan untuk saling menghormati hari suci atau hari raya umat beragama. Salah satunnya adalah hari besar Agama Buddha atau bisa disebut Trisuci Waisak yang merupakan hari raya paling bermakna dan terbesar bagi umat Buddha di seluruh dunia khususnya di Indonesia.

Jika berbicara hari besar umat Buddha kita harus tahu juga sejarah Waisak, jika dirujuk dari arti katanya 'Waisak' bersumber dari bahasa Pali 'Vesakha' dalam catatan bahasa Sansekerta bisa juga disebut 'Vaisakha'. Kemudian 'Vesakha' diambil dari bulan pada kalender buddhis yang selalu jatuh pada setiap bulan Mei dalam kalender Masehi.

Selain itu juga hari besar umat Buddha atau hari Waisak dapat dimaknai dengan adanya Tiga Peristiwa Penting dalam sejarah agama Buddha, dimana tiga peristiwa tersebut terjadi pada bulan Vesakha serta pada waktu yang bersamaan, tepat ketika bulan purnama. Sejarah Hari Raya Waisak

Baca Juga:

Tiga Peristiwa Penting Di Hari  Suci Waisak

1. Kelahiran Pangeran Sidharta

Pangeran Sidharta adalah Putra dari seorang Raja yang bernama Raja Sudodhana dan seorang Permaisuri yang bernama Ratu Mahamaya. Pangeran Sidharta lahir ke dunia sebagai seorang Bodhisatva (Calon Buddha, Calon Seseorang yang akan mencapai Kebahagiaan Tertinggi). Beliau Lahir di Taman Lumbini pada tahun 623 sebelum Masehi.

2. Pencapaian Penerangan Sempurna

Pangeran Sidharta tidak pernah keluar dari istana, pada usia 29 tahun beliau pergi meninggalkan istana dan pergi menuju Hutan untuk mencari Kebebasan dari Usia Tua, Sakit dan Mati. Kemudian pada saat Purnama Sidhi di bulan Waisak, Pertapa Sidharta mencapai Penerangan Sempurna dan mendapat gelar Sang Buddha.

3. Pencapaian Parinibbana

Ketika usia 80 tahun, Sang Buddha Wafat atau Parinibbana di Kusinara. Semua Makhluk memberikan penghormatan kepada Sang Buddha dan begitu juga Para Anggota Sangha, mereka bersujud sebagai tanda penghormatan terakhirnya kepada Sang Buddha.

Waisak sebagai sebuah hari raya Agama Buddha bisa memberikan contoh yang positif kepada setiap orang. Contoh positif yang diteladani adalah pengembangan cinta kasih kepada setiap makhluk hidup.


Satu harapan besar dari Hari Waisak tersebut adalah bahwa setiap manusia diharapkan dapat merenungi segala perbuatannya dan setiap saat selalu hidup dengan rasa cinta kasih tanpa kebencian, seperti yang tertulis di dalam Dhammapada.

Demikianlah sekelumit Sejarah Hari Raya Waisak, semoga bisa menambah khazanah keilmuan anda, dan dapat dijadikan perenungan, bahwa sejatinya agama adalah mengajarkan kasih sayang atas sesama. Mereka yang suka melakukan teror adalah orang yang tak beragama.

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel