Candi Borobudur, Peninggalan Wangsa Syailendra Atau Nabi Sulaiman?


Candi Borobudur, Peninggalan Wangsa Syailendra Atau Nabi Sulaiman? Sebagaiaman yang dijelaskan dalam buku-buku sejarah Indonesia, Candi Borobudur didirikan oleh para penganut agama Budha Mahayana yang diperkirakan sekitar tahun 800-an pada masa pemerintahan Wangsa Syailendra

Hal serupa juga ditegaskan oleh De Casparis bahwa Candi Borobudur adalah candi pusaka Wangsa Syailendra.

Meskipun tidak ditemukan bukti secara tertulis yang mampu menjelaskan siapa yang membangun Candi Borobudur dan apa kegunaannya. 

Waktu pembangunan Candi Borobudur diperkirakan berdasarkan perbandingan antara jenis aksara yang tertulis dikaki tertutup Karmawibhangga dengan aksara yang lazim digunakan pada prastasi kerajaan abad ke-8 dan ke-9 .

Sekitar tahun 800-an saat dibangun Candi Borobudur, sesuai dengan kurun masa puncak kejayaan Wangsa Syailendra di Jawa Tengah, yang kala itu dipengaruhi kemaharajaan Sriwijaya.
Pembangunan Candi Borobudur diperkirakan menghabiskan waktu 75-100 tahun lebih dan benar-benar dirampungkan padapemerintahan raja Samaratunggapada tahun 825 Masehi.

Masih terdapat ketidakpastian fakta mengenai apakah raja yang berkuasa di Jawa kala itu beragama Hindu atau Budha. 

Wangsa Syailendra sendiri merupakan pecahan kerajaan Mataram kuno yang terpecah menjadi Dinasti Syailendra dan Sanjaya. Sementara itu Wangsa Syailendra menganut agama Budha Mahayana yang taat meskipun awalnya menganut agama Hindu.

Candi Borobudur dibangun pada kurun waktu yan hampir bersamaan dengan candi-candi di dataran Prambanan, namun Borobudur diperkirakan sudah selesai sekitar tahun 825, 25 tahun lebih awal sebelum dimulainya pembangunan Candi Siwa Prambanan yang dibangun oleh Dinasti Sanjaya yang beragama Hindu.

Sementara itu, versi mengenai Candi Borobudur peninggalan Nabi Sulaiman dikemukakan oleh matematikawan Islam bernama Fahmi Basya, dalam penelitian tersebut Fahmi  menegaskan bahwa Candi Borobudur adalah peninggalan Nabi Sulaiman.  

Apabila yang dikatakan Fahmi ini falid maka versi Cnadi Borobudur peninggalan Wangsa Syailendra dinyatakan gugur.

 Dalam penelitianya yang suda dibukukan dengan judul Matematika Islam 3 tersebut, Fahmi menyebutkan beberapa ciri-ciri candi candi Borobudur yang menjadi bukti sebagai peninggalan putra Nabi Daud tersebut. 

Diantaranya adalah hutan dan negeri Saba, makna Saba, nabi Sulaiman, buah maja yang pahit, dipindahknya istana ratu Saba ke wilayah kekuasaan nabi Sulaiman, bangunan yang tidak terselesaikan oleh para jin, tempat berkumpulnya ratu Saba, dan lainya.

Dalam Al-Quran kisah nabi Sulaiman dan ratu saba disebutkan dalam surah an-Naml ayat 15-44, Saba 12-16, Al-Anbiya 78-81, dan lainya. Namun banyak yang tidak percaya jika candi Borobudur peninggalan nabi Sulaiman. 

Karena nabi Sulaiman hidup apada abad ke-10 SM, Sedangkan candi Borobudur dibangun pada abad ke-8 M. Kemudian alsan lainya karena peristiwa nabi sulaiman tersebut terjadi di wilayah Palestina, dan Saba di Yaman Selatan, Sedangkan Borobudur di Indonesia.

Tentu saja ini menimbulkan penasaran, apalagi Fahmi yang merupakan seorang Kiyai dengan gelar Haji menunjukan bukti-bukti berdasarkan keterangan Al-Quran.

Sementara itu disisi lain, dosen UI sekaligus arkeologi Aris Munandar, tidak mengatakan benar atau salah mengenai penelitian Fahmi tersebut. 

Namuni ia memberikan pandangan dari sisi sejarah dan arkeologi dan membantah teori penelitian fahmi tersebut. Aris Munandar juga memberikan saran untuk mengembangkan penelitian tersebut lebih lanjut, mengingat hasil penelitan tersebut menurutnya belum final.

Sumber : Kutipan berbagai sumber

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel