Filsafat Sejarah pada Zaman Pertengahan

Perkembangan filsafat sejarah pada zaman pertengahan pada pokoknya menunjukkan sifat-sifat yang religius. Segala kejadian di terangkan dalam cahaya kekal, segala-galanya kepada tuhan sebagai pencipta, penyelamatf dan hakim  seluruh umat manusia. Isi dan seluruh hidup ialah kerajaan tuhan. Dari pandangan itu terjadi bahwa kajian sejarah di zaman pertengahan bukan sebab-bebab dan alasan-alasan terhadap kajian sejarah, melainkan tentang tujuan (arahteleologis).

Pada umumnya perkembangan filsafat sejarah, seperti pandangan St. Agustinus seakan-akan mewakili pandangan yang tetap dan utama untuk selruh zaman pertengahan tersebut. Juga percobaan dari Otto Van Freishing atas pandangan tersebut itu. Otto Van Freishing mengalami perselisihan antara grreja dengan negara mencoba menyusun suatu sejarah berkat pikiran-pikiran filsuf.

Dalam segala hal yang sudah di tulisnya ia berusaha memberikan yang benar. Otto sudah mengerti ada hukum atau aliran yang gtertentu di dalam sejarah bergerak tak berhentinya dan gerakan dari perjuangan dan kemenangan. Akan tetapi kejadian yang kurang baik (Kummervollen Greschehniscen) di pandangnya sebagai metode pendidikan dari tuhan yang mau berkata pada manusia bahwa tidak ada yang tertentu dan pasti di dunia ini. Dan akhirnya menurut pendapatnya segala pengetahuan ilmu pengetahuan bergerak dari timur ke barat.

Filsafat Sejarah pada Zaman Renaissance

Memasuki masa Rennaisance, otoritas Aritoteles tersisihkan oleh metode dan pandangan baru terhadap alam yang biasa disebut Copernican Revolution yang dipelopori oleh sekelompok sanitis antara lain Copernicus (1473-1543), Galileo Galilei (1564-1542) dan Issac Newton (1642-1727) yang mengadakan pengamatan ilmiah serta metode-metode eksperimen atas dasar yang kukuh.
Selanjutnya pada Abad 17, pembicaraan tentang filsafat ilmu, yang ditandi dengan munculnya Roger Bacon (1561-1626). Bacon lahir di ambang masuknya zaman modern yang ditandai dengan kemajuan ilmu pengetahuan.

Bacon menanggapi Aristoteles bahwa ilmu sempurna tidak boleh mencari untung namun harus bersifat kontemplatif.Menurutnya Ilmu harus mencari untung artinya dipakai untuk memperkuat kemampuan manusia di bumi, dan bahwa dalam rangka itulah ilmu-ilmu berkembang dan menjadi nyata dalam kehidupan manusia.Pengetahuan manusia hanya berarti jika nampak dalam kekuasaan mansia; human knowledge adalah human power.

Perkembangan ilmu pengetahuan modern yang berdasar pada metode eksperimental dana matematis memasuki abad 16 mengakibatkan pandangan Aritotelian yang menguasai seluruh abad pertengahan akhirnya ditinggalkan secara defenitif. Roger Bacon adalah peletak dasar filosofis untuk perkembangan ilmu pengetahuan.Bacon mengarang Novum Organon dengan maksud menggantikan teori Aristoteles tentang ilmu pengetahuan dengan teori baru.

Karyanya tersebut sangat mempengaruhi filsafat di Inggris pada masa sesudahnya.Novum Organon atau New Instrumen berisi suatu pengukuihan penerimaan teori empiris tentang penyelidikan dan tidak perlu bertumpu sepenuhnya kepada logika deduktifnya Aritoteles sebab dia pandang absurd.

Hart mengaggap Bacon sebagai filosof pertama yang bahwa ilmu pengetahuan dan filsafat dapat mengubah dunia dan dengan sangat efektif menganjurkan penyelidikan ilmiah.Beliaulah peletak dasar-dasar metode induksi modern dan menjadi pelopor usaha untuk mensistimatisir secara logis prosedur ilmiah.

Seluruh asas filsafatnya bersifat praktis yaitu menjadikan untuk manusia menguasai kekuasaan alam melalui penemauan ilmiah Menurut Bacon, jiwa manusia yang berakal mempunyai kemamapuan triganda, yaitu ingatan (memoria), daya khayal (imaginatio) dan akal (ratio).Ketiga aspek tersebut merupakan dasar segala pengetahuan. Ingatan menyangkut apa yang sudah diperiksa dan diselidiki (historia), daya khayal menyangkut keindahan dan akal menyangkut filsafat (philosophia) sebagai hasil kerja akal.

Demikian pembahasan singkat mengenai Sejarah Perkembangan Filsafat Sejarah (Sumber : catatan perkuliahan)