Islam, Demokrasi, dan Sekularisme Di Turki


Islam, Demokrasi, dan Sekularisme Di Turki

Islam, Demokrasi, dan Sekularisme Di Turki - Terdapat kemiripan antara Turki dan Indonesia, dalam hal keduanya sebagai “non-Arabic country” yang mayoritas rakyatnya adalah muslim. Tetapi banyak faktor lain yang membuat Indonesia dan Turki sangat berbeda. Bangsa Turki sangat bangga akan sejarahnya yang pernah menguasai dunia yang tidak bisa dilepaskan dari tradisi keislaman. Di sini jelas sangat berbeda dari Indonesia yang dahulunya pusat Hindu-Budha dan jadi obyek penjajahan sampai hari ini.

Bangsa dan negara Turki jauh lebih homogen dari sisi agama dan budaya ketimbang Indonesia. Di sana persaingan politik yang muncul antara kubu militer, kelompok sekuler dan Islamis. Isu minoritas agama tidak begitu signifikan. Yang ada adalah gerakan separatis suku Kurdi yang juga menjadi masalah di negara tetangga Turki.

Begitu kuatnya dan lamanya peran militer dalam mengendalikan negara yang juga mengklaim sebagai pengawal sekularisme Kemalisme, punya implikasi sangat signifikan bagi perkembangan Islam di Turki untuk memasuki domain politik. Dalam hal ini sangat berbeda dari Indonesia, di mana agama dan politik bersimbiosis dengan konsekuensi plus-minusnya.

Simbol agama tidak boleh masuk ke ranah politik. Tak ada seremoni keagamaan di lingkungan istana dan ruang-ruang negara. Agama lalu tumbuh dalam wilayah pribadi, keluarga dan, forum pengajian dengan wadah gerakan tarekat dan seni sebagai preservasinya. Masjid berada di bawah kontrol dan kendali negara, Imam-Khatib merupakan pegawai negeri yang digaji pemerintah.

Dengan kemajuan ekonomi yang lebih baik ketimbang Eropa, maka masyarakat secara swadaya mendirikan masjid yang bermunculan di berbagai pelosok kota dan desa, yang membawa konsekuensi pemerintah mesti juga mendirikan sekolah-sekolah atau perguruan tinggi untuk mendidik Imam-Khatib dan menggajinya.

Jadi, saat ini bermunculan pendidikan menengah dan pendidikan tinggi dalam bidang keislaman yang ternyata berkembang berbalik dari apa yang dibayangkan Kemal Attaturk pada awal mulanya. Terlebih lagi dengan kemajuan demokrasi dan perbaikan ekonomi, banyak alumni sekolah-sekolah keislaman yang melanjutkan studi ke luar negeri, baik ke Timur Tengah maupun ke Barat, persis fenomena anak-anak santri Indonesia yang belajar ilmu sosial ke Barat.

Mereka tetap setia berada di atas jalur konstitusi sebagai negara sekuler, lalu nilai keislaman diartikulasikan dan diekspresikan secara substansial di dalam kinerja mereka secara profesional. Kondisi ini mendorong kubu Islamis lebih mengedepankan program dan prestasinya tanpa melekatkan simbol-simbol agama. Oleh karena itu berbagai pidato politik di Turki tak ada yang mengutip ayat-ayat Alqur’an atau Hadith, sehingga kubu militer dan sekuler tak punya alasan memperkarakan kelompok Islamis, seperti AKP, sebagai penentang Kemalisme-Sekularisme.

Lebih jauh lagi, kekuatan Barat dan Eropa yang tidak senang pada Islam juga tidak punya alasan kuat untuk memberi cap AKP sebagai anti demokrasi model Barat. Jadi, Turki telah ikut memperkaya eksperimentasi sejarah Islam bagaimana menjaga tradisi keislaman dalam sistem demoklrasi sekuler, tanpa kehilangan identitas nasional dan ghirah keislamannya.

Itulah yang dapat kami sajikan dan bahas kepada anda, semoga artikel yang mengulas mengenai  Islam, Demokrasi, dan Sekularisme Di Turki, dapat anda pahami dengan baik dan bisa menjadi sumber rujukan baik untuk kepentingan akademis maupun kepentingan lainnya. (Sumber : Kutipan Makalah Prof. Komaruddin Hidayat)

0 Response to "Islam, Demokrasi, dan Sekularisme Di Turki"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel