Biografi Pangeran Diponegoro, (Tokoh Utama Perang Jawa)



Seputarsejarah.com - Biografi Pangeran Diponegoro, (Tokoh Utama Perang Jawa). Pangeran Diponegoro, terlahir dengan nama Bendoro Raden Mas Mustahar, nama tersebut pemberian dari seorang selir bernama R.A. Mangkarawati, yaitu seorang garwa ampeyan (istri selir) yang berasal dari Pacitan, Ia lahir di Keraton Yogyakarta, pada tanggal 11 November 1785.
Pangeran Diponegoro merupakan tokoh utama dalam Perang Jawa II. Diponegoro adalah cucu Hamengkubuwono II, dan cicit dari Pangeran Mangkubumi pendiri Kesultanan Yogyakarta.
Sewaktu Diponegoro masih dalam gendongan, Pangeran Mangkubumi, pendiri Yogyakarta, meramalkan bahwa kelak  Diponegoro akan membawa kerusakan yang lebih parah pada Belanda. Mangkubumi meyakini Diponegoro akan menjadi musuh yang lebih berat bagi Belanda, di banding dirinya semasa perang Giyanti 1746 - 1755.
Ramalan itu ternyata terbukti, sejak meletusnya perang Diponegoro pada 1825 - 1830, pihak Belanda cukup kewalahan. Perang Diponegoro sangat menguras keuangan Belanda, sekitar 25 juta Gulden dihabiskan untuk membiayai perang ini. Sebuah perang dahsyat yang sebelumnya tidak pernah terjadi.
Perang Diponegoro mempengaruhi 2 juta orang atau sepertiga penduduk pulau Jawa, dan menelan 200.000 korban jiwa. Dari pihak belanda sendiri sekitar 8000 tentara Belanda - Eropa, dan 7000 tentara bantuan lokal tewas menjadi korban. Kerugian besar belanda ini kemudian ditutup dengan adanya tanam paksa di tanah Jawa, oleh Van de Bosch sekitar tahun 1831 - 1877.
Perang Diponegoro sendiri mulai berakhir menjelang akhir tahun 1829, dimulai dengan terbunuhnya paman dan dua keponakan Diponegoro di pegunungan Kelir, pada tanggal 21 September. Diponegoro sendiri hampir tertangkap pada 11 November oleh pasukan gerak cepat Michels, sang Pangeran pun terdesak dan mundur kearah barat disekitar Bagelen.

Pada hari Minggu tanggal 28 Maret 1830Pangeran tiba dikediaman Residen Kedu, untuk bertemu De Kock. Bersama tiga orang puteranya, diiringi penasihat agama, dua punakawan, dan seorang pengawal pribadinya Diponegoro dipersilahkan untuk masuk, sementara para pengikutnya yang lain menunggunya diluar dengan setia.

De Kock pun memulai pembicaraan dengan mengatakan sebaiknya Pangeran tidak usah kembali ke Matesih, dan tetap tinggal di kediaman residen dengan dirinya. Diponegoro mempertanyakan alasan De Kock menahan dirinya, De Kock mengatakan alasannya menahan Diponegoro adalah agar semua urusan diantara mereka segera selesai.

Diponegoro mempertanyakan sikap De Kock ini, dia pun menegaskan dirinya mau bertemu untuk berunding, karena dijanjikan oleh Cleerens bahwa dia bisa bebas kembali pulang jika perundingan gagal. Pangeran pun tidak meminta apa-apa selain menjadi kepala agama Islam di Jawa, dan gelarnya sebagai Sultan diakui, sementara untuk urusan yang lain diserahkan pada pemerintah kolonial.

Saat itulah pasukan kolonial menangkap Diponegoro dan para pengikutnya, Diponegoro kemudian dibawa dan ditahan di benteng De Oentmoeting di Ungaran, Semarang. Kemudian pada tanggal 5 April 1830, Diponegoro dibawa ke Batavia, dengan kapal uap SS Van Der Capellen, Diponegoro  ditahan di Batavia pada tanggal 8 April hingga 3 Mei 1830. 

Diponegoro kemudian dibuang ke Manado, dan menjalani Takdir sebagai sang putera fajar, dan pahlawan terhebat tanah Jawa abad 19, yang hidup dalam pengasingan. Pangeran Diponegoro dihukum seumur hidup hingga tahun 1855, saat ajal menjemput di Makasar. 

Penghargaan sebagai Pahlawan
Namanya digunakan sebagai Jalan di beberapa kota besar Indonesia. Tidak hanya jalan, namanya juga digunakan sebagai nama-nama tempat antara lain: Stadion Diponegoro, Universitas Diponegoro. Beliau diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada tanggal 6 November 1973 melalui Keppers No.87/TK/1973. 

Pada tanggal 21 Juni 2013, UNESCO menetapkan Babad Diponegoro sebagai Warisan Ingatan Dunia (Memory of the World). Babad Diponegoro merupakan naskah klasik yang dibuat sendiri oleh Pangeran Diponegoro ketika diasingkan di Manado, Sulawesi Utara, pada tahun 1832­-1833. Babad ini bercerita mengenai kisah hidup Pangeran Diponegoro.

Selain itu, untuk mengenang jasa Pangeran Diponegoro dalam memperjuangkan kemerdekaan, didirikanlah Museum Monumen Pangeran Diponegoro atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sasana Wiratama di Tegalrejo, Yogyakarta, yang menempati bekas kediaman Pangeran Diponegoro.

Sumber : Dikutip dari berbagai sumber

0 Response to "Biografi Pangeran Diponegoro, (Tokoh Utama Perang Jawa)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel