Persatuan “Itu” Hadir di Bali

 Seputarsejarah.com: Kerukunan di Bali

Baru saja kita disuguhkan aksi persatuan umat di Ibu Kota Indonesia, atau juga dapat disebut reuni aksi 212. Tak pelak aksi itu dihalang-halangi, bahkan banyak aparatur pemerintah daerah yang menghimbau agar masyarakatnya tidak hadir dalam agenda tersebut. Seruan untuk menyebut aksi intoleran, anti pancasila, anti NKRI, gerakan kaum radikal. lalu lalang di dunia maya. Saya bukan alumni aksi 212. Akan tetapi saya merasa takjub akan persatuan umat yang begitu luar biasa. Terlepas itu ada unsur politik praktis atau tidak. saya mencoba untuk berkhusnudzon bahwa ini adalah aksi persatuan umat untuk membuktikan bahwa islam itu damai, isalam itu toleran, islam Indonesia itu pancasilais dan nasionalis karena dalam ajaran saya mencintai negeri sendiri adalah sebagian dari pada iman. Maka kemajemukan yang ada dinegeri ini bukanlah masalah bagi saya.

Selang satu minggu dari aksi reuni 212. Persatuan itu hadir di Bali. Dalam rangka memperingati maulid Nabi, jauh-jauh hari pamphlet agenda maulid Nabi  di Bali yang akan dihadiri ustadz Somad menghiasi media social atau pesan berantai di whatshap. Bahkan rencana kedatangan ustadz Somed ini ditentang oleh beberapa ormas di Bali. Karena ceramah ustad Somed dianggap provokatif, berbau sara, anti pancasila, mendukung khilafah, dan sering mengkafir-kafirkan orang. Saya tidak mengetahui kiprah ustad Somad dalam berdakwah seperti apa. Saya hanya tahu ketika video ustadz Somad viral dan diperdebatkan karena jawabannya terkait Rina Nose yang memilih melepas hijab kembali. Akhirnya saya mencari tau lebih dalam lagi tentang ustadz Somad melalui ceramah-ceramahnya di instagram dan youtube. Setelah saya amati ceramahnya saya anggap masih dalam batas wajar. Kalaupun sering mengatakan kafir, karena sebutan kafir dalam Al-Quran itu ada, dan untuk menyebut kaum selain Islam.

Penolakan kedatangan ustadz Somad tidak hanya dilakukan di media social, beberapa pimpinan ormas mendatangi pihak panitia untuk mengganti ustadz lain. Dari hasil pertemuan itu disepakati bahwa ustadz Somed diperbolehkan datang dan ceramah di Bali, dengan catatan hanya boleh dua masjid saja, yang semula diagendakan empat masjid. Pada hari jumat tanggal 8 desember 2017, ustadz somed tiba di bandara Ngurah Rai, kedatangannya diwarnai dengan aksi penolakan ustadz Somed di Denpasar oleh beberapa ormas di Bali. Penolakan itu berlanjut ke tempat penginapan ustadz somad di hotel Aston Denpasar. Dan pada akhirnya kapolres Denpasar dan Dandim Badung mampu memediasi anatara para penolak ustadz Somad dengan panitia. Mediasi tersebut diakhiri dengan menyanyikan lagu Indonesia raya.

Mulai pukul 18.00 wita, umat Islam di Bali tumpah ruah di Masjid Annur Jalan Diponegoro, saya pun hadir setelah maghrib sekitar pukul 19.00. sampai disana terlihat lantai atas dan bawah masjid Annur sudah terisi penuh. Bahkan umat islam yang tidak mendapat tempat terpaksa tumpah ruah sepanjang jalan Diponegoro. Terpaksa jalan tersebut harus ditutup untuk menampung jamaah yang hadir. Sembari menunggu kedayangan ustadz Somad dari penginapan, gema takbir terus dipekikan oleh jamaah yang hadir baik didalam masjid atau di jalan Dipenogoro. Selain pekikan takbir, sembari memegang ponsel untuk mengabadikan moment tersebut para jamaah juga terus melantunkan sholawat.

Moment ini sangat berharga bagi saya. karena selama 5 tahun saya tinggal di Bali belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Hati terus bergetar dikala saya ikut melantunkan sholawat. Nampak saya amati jamaah terus berdatangan untuk memadati jalan Diponegoro. Saya merasakan semangat Diponegoro itu hadir disepanjang jalan Dipenogoro. Semagat pantang menyerah walaupun tidak kebagian tempat, semangat rela berkorban demi memuliakan ulama. Takbir dan sholawat tarsus menggema hingga kedatangan ustadz Somad. Jamaah yang hadir membuka jalan dengan membuat pagar betis untuk dilalui ustadz Somad. Ustadz somad datang dengan dikawal panitia dan aparat kepolisian dan TNI. Tampaak tidak ada ketegangan diwajahnya, beliau terus menebar senyum.

Selain ceramah di masjid Annur, kemudian ustadz Somed mengisi ceramah subuh di masjid Baiturrahman kampung jawa Denpasar. Kehadiran ustadz Somad membawa persatuan, ukwah, jalinan yang kuat bagi umat muslim Bali. Kehadiranya penting bagi umat muslim Bali, tapi persatuan umat sangatlah penting. Dengan adanya upaya-upaya penolakan terhadap Ustad Somad dengan tuduhan anti pancasila dan NKRI, mari kita sebagai umat muslim, kaum minoritas di Bali, tunjukan bahwa islam itu damai, islam itu jauh lebih pancasilais dan nasionalis. Mari kita ambil hikmah dari penolakan ustadz Somad ini, dakwah nabi Muhamad jauh lebih berat dari pada dakwah yang dilakukan ustadz Somad, jika kita sama-sama berdakwah insa allah, dakwah akan semakin ringan. 

Kemudian yang terakhir. Penolakan terhadap ustadz Somad, telah tersebar secara cepat di media social, bahkan #baliintoleran sudah merebak di media social. Mari kita redam, bahwa rakyat Bali sangatlah toleran, dan bahkan pulau paling toleran di Indonesia. Karena kalau kita rasakan bersama ketika ceramah ustad Somad berlangsung, tidak ada yang menghalang-halangi dan memberhentikanya. Rakyat bali sangatlah toleran. Kita yang tinggal dan mencari hidup di Bali mari terus tebar kebaikan. Dimana bumi dipijak disitu langit dijunjung.
Oleh :

Nurjaya, S.S. (Author)

0 Response to "Persatuan “Itu” Hadir di Bali"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel