Surat Untuk Emaa dan Bapaa! (Maafkan Anakmu Yang Belum Juga Diwisuda)


Sejak kecil saya memanggil Ibu dan Ayah dengan sebutan Emaa dan Bapaa, hal ini berlaku untuk kakak dan adik-adik saya, sebutan Emaa dan Bapaa sudah lazim digunakan oleh masyarakat di desa saya, hari ini (11 Maret 2017) Emaa dan Bapaa seharusnya bisa merasakan  kebahagiaan melihat anaknya, mengenakan toga dan disumpah sebagai wisudawan disalah satu kampus negeri di Bali, selain bahagia tentunya Emaa dan Bapaa akan bangga karena anaknya menjadi satu-satunya sarjana dari desa yang berhasil lulus dari perguruan tinggi negeri.  sebagaimana lima tahun yang lalu Emaa dan Bapaa begitu bahagia ketiaka melihat anaknya diwisuda sebagai lulusan SMA di sekolah milik mantan Jendral Pol. Purn. Dai Bachtiar. Suasana kebahagiaan dan kemeriahan wisuda tentunya dimiliki oleh setiap wisudawan dan wisudawati beserta keluarganya. Namun hari ini Emaa dan Bapaa harus menunda kebahagiaan itu untuk melihat anaknya diwisuda, berbeda dengan wisudawan lainya, jujur saja sebenarnya saya tidak begitu bangga dan bahagia dengan prosesi wisuda, namun kalau melihat Emaa dan Bapaa bahagia, saya pun ikut bahagia, karena saya akan bahagia jika Emaa dan Bapaa bahagia.

Berbeda dengan pengetahuan banyak orang, Emaa dan Bapaa yang hanya lulusan pondok pesantren salaf di Cirebon dan tidak pernah mengenyam bangku kuliah, mereka mengira kuliah dapat diselesaikan dengan jangka waktu tiga tahun, sebagaimna jangka waktu pembelajaran di SMP dan SMA. Sehingga ketika memasuki tahun ke tiga kuliah, selain menanyakan kabar Emaa dan Bapaa selalu menanyakan kapan saya diwisuda, mau kerja dimana?, mau menikah kapan?. Ketiga pertanyaan itu sering dilontarkan meskipun sering saya beri pengertian sesuai porsinya. Namun saya juga memahami kenapa Emaa dan Bapaa selalu menanyakan hal demikaian, karena memang teman sebaya saya hampir semuanya sudah bekerja dan menikah bahkan sebagian sudah punya anak.

Dalam perjuangan saya menjalani proses pembelajaran di kampus, memang Emaa dan Bapaa tidak banyak menuntut, mereka hanya ingin tahu kapan saya diwisuda, mau bekerja dimana?, dan mau menikah kapan?. Bahkan mereka tidak pernah menanyakan siapa nama rektor, dekan, kajur, nama dosen, IPKnya berapa?, ikut kegiatan apa aja?, dan aktif diorganisasi mana aja?, karena memang menurut Emaa dan Bapaa hal itu tidaklah penting, yang penting bagi mereka adalah anak-anaknya harus tetap beribadah sebagimana yang dianjurkan Al-Quran dan Hadist, bahkan mereka selalu mengirim pesan melalui sms “Jangan pernah meninggalkan sholat, dan sering-sering baca sholawat”

Melalui surat ini, saya ingin meminta maaf kepada Emaa dan Bapaa, maafkan anakmu karena belum juga merealisasikan pertanyaan dan keinginan kalian, maafkan anakmu karena  terkadang sering meninggalkan sholat apalagi sholat subuh, mafkan anakmu yang pernah menjanjikan akan diwisuda pada bulan maret 2017, sampai-sampai kalian merencanakan akan membawa seluruh keluarga untuk menghadiri resepsi wisuda anakmu. Namaun nyatanya hingga 4,5 tahun anakmu belum juga diwisuda, maafkan anakmu belum bisa menafkahi kalian, maafkan anakmu yang belum juga mempunyai keinginan untuk menikah. 

Sebagaimana yang pernah saya samapaikan kepada Emaa dan Bapaa ketika saya memohon izin menunda wisuda untuk mengikuti kursus bahasa inggris intensif dan persiapan S2 luar negeri  Yayasan Insancita Bangsa (YIB) di Bogor, selama empat bulan. Bahwa saya berencana melanjutkan pendidikan hingga S2 dengan tujuan bukan untuk mencari pekerjaan melainkan untuk membangun dan merubah peradaban sebagaimana diwajibkan olah beberapa hadist Nabi, jikalau pun suatu saat saya mendapatkan pekerjaan yang layak itu adalah bonus dari perjuangan saya menuntut ilmu. Syukur-syukur anakmu dapat amanah dari rakyat untuk memimpin dan merubah daerah atau negara agar lebih maju sesuai peradaban bangsa-bangsa. Dulu anakmu sempat bercita-cita menjadi kepala desa. sebenarnya anakmu ini merasa miris dengan kinerja pemerintah desa, mereka hanya memperkaya dirinya sendiri, padahal banyak rakyatnya yang kurang sejahtera, bahkan banyak pemudanya yang mengadu nasib ke ijakarta karena kurang diberdayakan, dan banyak juga yang stay di desa tapi mereka banyak melakukan tindakan kriminal. atas dasar ini lah dulu anakmu ini sangat berambisi untuk maju mencalonkan diri sebagai calon kepala desa walaupun tanah Emaa dan Bapaa mungkin yang jadi korbanya untuk modal kampanye. dan bisa jadi anakmu nanti menjadi kepala desa dengan gelar master pertama di desa kita, tapi setelah saya pertimbangkan dan berdiskusi dengan anggota DPRD di Denpasar saya langsung mengubur pikiran dan ambisi saya untuk menjadi kepala desa. Aggota DPRD itu berpesan “jika ingin menjadi pemimpin jangan nanggung kalau jadi kepala desa kamu hanya bisa mensejahterakaan masyarakat desa, tapijika kamu jadi bupati atau gubernur, kamu bisa mensejhterakan masyarakat satu kabupaten atau satu provinsi dengan kebijakan yang kita buat”.
 
Jadi saya minta Emaa dan Bapaa tetap bersabar dan istiqomah mari saling mendoakan yang terbaik untuk keluarga kita. Saya tau Emaa dan Bapaa sering membicarakan kebaikan-kebaikan saya keorang-arang, meskipun jika dirumah kalian suka marah-marah. Saya anggap itu wajar karena setiap orang tua pasti selalu menyanjung anaknya didepan orang lain.

Saat ini anakmu sedang berjuang untuk memenuhi syarat agar bisa diterima oleh lembaga penyedia beasiswa S2 dan  kampus luar negeri terutama Ankara University di Turkey. Mohon doakan dan ridhoi perjuangan anakmu. Dan maafkan anakmu yang dulu tidak izin mendaftar kuliah di Bali yang awalnya kalian terkejut dan khawatir tapi akhirnya kalian mengizinkan juga. dan jangan khawatir dengan ibadah anakmu, selama dilokasi training alhamdulillah anakmu sudah mulai rutinshilat lima waktu secara berjamaah karena memang disini selalu ada yang mengingatkan, meskipun anakmu sadar sholat itu kebutuhan dan panggilan hati. Ingat Anakmu pasti wisuda tahun ini, kita akan merayakanya bersama keluarga sekaligus berlibur di pulau Bali. (Bogor 11 Maret 2017).

0 Response to "Surat Untuk Emaa dan Bapaa! (Maafkan Anakmu Yang Belum Juga Diwisuda)"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel