KETIKA TOLELET MENJADI HIBURAN MASAL.


Hari kamis tangga 22 Desember 2016, dengan menumpang mobil avanza milik senior, saya bermaksud sekalian ikut pulang kampung dengan cara transit di Surabaya, Cirebon baru kemudian ke kampung halaman di Indramayu. Sepanjang perjalanan dari Denpasar ke Surabaya saya menemukan fenomena yang langka di negeri ini, fenomena ini sebelumnya hanya saya liat melalui video media sosial youtube dan instagram.
Fenomena tersebut adalah fenomena unik baru-baru ini yang menjangkit masyarakat di Indonesia yang telah viral dimana-mana. Dengan memegang kertas atau kardus bekas dengan tulisan OM TOLELET OM, masyarakat yang mayoritas anak muda dan anak-anak tersebut merasa gembira ketika sang sopir bus membunyi terompet Tolelet…. Toleeelet…. kegembiraan tersebut dapat terlihat dari raut wajah dan ekspresi yang timbul dari masyarakat ketika terompet tersebut di bunyikan.
Selama 12 jam perjalanan akhirnya kami tiba di Surabaya, setibanya di Surabaya saya dijemput teman kemudian dibawa kerumahnya untuk singgah selama tiga hari. Tiga hari di Surabaya  saya merasa cukup untuk menikmati panas dan macetnya Surabaya.
Sesudah tiga hari di Surabaya, kemudian saya melanjutkan perjalanan ke Cirebon dengan menggunakan transportasi faforit saya, sebuah kendaraan dengan roda besi yang tidak pernah bocor, sebut saja inisialnya Kreta Api. Kreta yang saya naiki kali ini adalah Kreta Api Ranggajati jurusan  Jember- Cirebon., dengan jadwal keberangkatan dari Surabaya pukul 09.15 wib Sebelumnya saya sudah memboking tiket melalui jejaring internet dengan bandrol Rp 245.000,- untuk kelas bisnis, terpaksa mengambil kelas bisnis karena kelas ekonomi telah habis. Biasanya dari Surabaya ke Indramayu saya menggunakan Kreta Gaya Baru Malam Jurusan Surabaya – Gambir dengan bandrol Rp. 80.000,- aja.
Dari setasiun Surabaya Gubeng ke Stasiun Cirebon Perujakan menempuh selama 11 jam perjalanan. Setibanya di stasiun Perujakan Cirebon pada pukul 20.25 wib. saya di jemput oleh temen SMA 5 tahun yang lalu, kebetulan dia Kuliah di Cirebon dan kosnya tidak jauh dari stasiun.
Keesokan harinya saya di ajak oleh teman-teman dari keluarga aktivis HMI di Cirebon berkunjung ke Keraton Kesepuhan Cirebon, sebelumnya kami mampir untuk makan siang Nasi Lengko Khas Cirebon. Tak lama kemudian kami beranjak ke lokasi keratin, dengan membisiki kode kalimat akhirnya kami masuk secara geratis, berbeda dengan pengunjung lain yang dikenakan tiket sebesar Rp 15.000.- per kepala.

Setelah mengelilingi dan mempelajari situs sejarah keraton kasepuhan Cirebon, saya langsung pulang ke Indramayu menggunakan Bus Jurusan Cirebon – Jakarta, dengan merogoh kocek Rp. 20.000,- saya bisa menaiki bus dengan merek Bhineka tersebut. Sepanjang perjalanan Cirebon – Indramayu fenomena TOLELET ternyata masih buming, hal-hal unik yang saya temui sepanjang perjalanan Denpasar - Surabaya  saya temui lagi, dan bahkan fenomena ini justru dijadikan bahan lelucon yang buruk oleh oknum TOLELET yang ada disepanjang perjalanan Cirebon – Indramayu. Beberapa gerombolan  anak muda dengan geng yang berbeda-beda tiba-tiba memberhentikan bus layaknya penumpang yang akan menaiki bus yang saya tumpangi, setelah bus berhenti kemudian gerombolan tersebut dengan kompak meminta TOLELET, saking keselnya sang sopir membunyikan terompet dengan lama dan kencang, sayang terompet itu tidak berbunyi TOLELET…..

0 Response to "KETIKA TOLELET MENJADI HIBURAN MASAL."

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel