Surat Terbuka untuk Calon Wisudawan dan Wisudawati

Assalamualaikum, Calon Wisudawan dan  Wisudawati yang dirahmati Allah Swt. saya mahasiswa tingkat akhir di salah satu Perguruan Tinggi negeri di Indonesia. akhir-akhir ini saya merasa geli(sah)  mendengar pertanyaan-pertanyaan dan seruan untuk segera lulus dan tentunya wisuda. ditambah lagi melihat teman-teman seangkatan sudah sidang sekripsi dan akan diwisuda. oleh sebab itu saya menulis surat terbuka ini untuk dijadikan bahan renungan untuk kita semua.
surat terbuka ini sedikit saya kutip dari yunda Dwi Setya, yang menulis surat serupa namun dengan gaya bahasa yang sulit untuk dipahami. oleh sebab itu saya menulis dengan bahasa yang ringan dan mudah dipahami sesuai jargon blog saya.
"mayoritas mahasiswa dicuci otaknya agar puas menjadi tenaga kerja perusahaan besar dan badan rahasia pemerintah, dan yang terburuk dari itu semua, mereka sama sekali tidak menyadarinya"
(Erica Goldson). peryataan yunda Erica ini seharusnya bisa mengetuk hati dan pikiran kita semua yang terjajah oleh sistem pendidikan yang menjadikan kita tenaga siap kerja dan pencari kerja, bukan sarjana yang siap melahirkan pengusaha. 
Belum lagi  perayaan gelar sarjana kini tak kalah ngepop dengan event hip hip hura. ditambah lembaga mahasiswa seperti UKM maupun BEM (Badan Event Mahasiswa) yang cenderung mandul tidak produktif. mondar mandiri membawa proposal Event, dan tiket bazar memoroti korporasi kampus. Padahal diluar sana masih banyak lahan yang perlu digarap. Apalagi untuk sebuah Event.
calon wisudawan dan wisudawati Rahimatululah.
Mari kita renungankan kembali. selama kita menjadi mahasiswa Sudah berapa judul buku yang khatam dibaca dan didiskusikan? Berapa karya ilmiah yang diproduksi? Berapa ulasan kritis atas persoalan sosial yang Anda terbitkan di blog pribadi atau di media? Seberapa luas bergaulkah? Mampukah membaca realitas sosial? Seberapa banyak lembaga riset yang pernah dikunjungi? Seberapa sering berbaur di ruang-ruang diskusi? Berapa kali turun aksi (meski cuma megangin bendera sambil selfie)?
Pertanyaan ringan di atas harus selesai dijawab, sebelum kita tergesa-gesa bangga mengupload foto-foto berkostum jas atau kebaya dengan seperangkat konde ditambah baju toga itu di seluruh akun medsos
Kan memalukan kalau lulus sarjana taunya cuma kampus, warung kongkow, dan kos-kosan. Kalau kosannya mirip rumah kos Tjokroaminoto, tempat berkumpul orang-orang repolusioner, sih mending, lah kalau cuma buat kelonan bareng media sosial kan udik.  Mereka yang mengantar kita sampai ke depan pintu gerbang kemerdekaan pastilah berangkat dari realitas sosial, bukan dari ruang berpendingin yang harum. Gimana sekarang mau membuka pintu gerbang dan masuk ke halaman kemerdekaan kalau membaca ruang sosial saja belum tuntas? Mau selamanya di depan pintu gerbang?
yang lebih miris mereka yang sudah diwisuda  mengaku sebagai intelektual setelah dapet toga? Memangnya seberapa berarti karya ilmiahnya dalam menuntaskan persoalan fakir, miskin, anak terlantar, hingga jomblo? Tanpa visi ideologis, jumlah angka yang dibanggakan itu hanyalah sarana transaksi antara tenaga dan kapital.
sebelum diwisuda mari kita tuntaskan tri darma perguruan tinggi yang sebenar-benarnya pendidikan, sebenar-benarnya penelitian, dan sebenar-benarnya pengabdian masyarakat. kulia setiap hari belum bisa dikatakan sebagai insan akademis, penelitian sekali menuntaskan skripsi belum disebut sebagai insan pencipta, dan bersih-bersih di pantai, selokan jalan, tempat ibadah dan lain-lain tidak bisa disebut sebagai insan pengabdi. karena sudah jelas terlihat orientasinya hanya sebagai syarat lulus saja. bukan untuk kepentingan bangsa. * (Nurjaya)
Mari kita renungkan.

0 Response to "Surat Terbuka untuk Calon Wisudawan dan Wisudawati"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel