Sidang Isbat untuk Siapa?

Kontraversi penetapan Awal Ramadhan bukan tahun ini saja terjadi, tahun-tahun sebelumnya juga demikian pelaksanaan sidang Isbat yang berlangsung tertutup dan cukup lama membuat bingung Masyarakat Indonesia yang menunggu hasil keputusan awal Ramadhan dari pemerintah  melalui kementrian Agama. Tepat pukul 19.00 WIB Kebingungan itu akhirnya terjawab ketika Mentri Agama Lukman Hakim Syarifudin mengumumkan penetapan awal Ramadhan jatuh pada Senin 6 Juni 2016 dengan dasar terlihatnya hilal oleh para saksi yang telah diambil sumpah oleh hakim agama di enam daerah.

Pada tahun 2009 sidang Isbat pernah dilaksanakan terbuka, dari sekian organisasi dan lembaga Islam yang hadir memiliki pandangan dan pendapat yang berbeda-beda. Saya masih ingat betul  ketika itu Muhammadiyah dipojokan oleh organisasi Islam. Meski pemerintah memutuskan penetapan awal Ramadhon. Muhammadiyah tetap pada keputusanya tidak mengikuti keputusan pemerintah. Kemudian ditahun-tahun berikutnya hingga sekarang sidang Isbat selalu digelar tertutup dan tetap mengundang organisasi dan lembaga Islam terkait. Namun keputusan penetapan awal Ramadhan tetap berada pada keputusan pemerintah melalui kementrian Agama.

Celakanya Kontraversi penetapan Awal Ramadhan yang terjadi pada tahun ini, membuat saya geram, dan bahkan mungkin Masyarakat yang berada di daerah Indonesia Bagian Tengah seperti saya, dan Indonesia Bagian timur. Pasalnya keputusan panitia terlalu lamban. Ketika pemerintah menetapkan awal Ramadhon sebagian masjid-masjid di Bali pada khususnya sudah selesai menjalankan sholat Isya berjamaah. dan masih bingung mau menjalankan Ibadah Sholat traweh atau tidak sedangkan disis lain para Jamaah sudah memadati masjid untuk menjalankan Ibadah sholat taraweh. Tidak bisa saya bayangkan bagaimana bingungnya masyarakat atau dewan masjid di Indonesia bagian timur yang menunggu penetapan awal ramadhan dari pemerintah.

Ketika Pemerintah mengumumkan penetapan awal Ramadhan saya bersama teman-teman yang sudah dari pukul 18.00 wita menunggu hasil sidang Isbat langsung bergegas menuju Masjid Agung Sudirman. Kami sengaja memilih masjid Agung sudirman karena ini bukaan Masjid Jamaah Muhammadiyah. Masjid ini selalu mengikuti keputusan pemerintah selain itu karena letaknya tidak terlalu jauh dan tempat parkirnya luas. Sesampainya di Masjid Agung Sudirman kami terkejut lapangan Sepak bola milik Korem  Udayana begitu dipadati kendaran para Jamaah. Nampak terlihat dari lokasi parkir sholat sudah mulai. Saya kira masih sholat Isya ternyata sudah memasuki sholat taraweh. Saya dan teman-teman terpaksa hanya kebagian sholat witir di sof tempat alas kaki tanpa sadjadah depan kamr mandi karena tidak ada tempat lagi.  Usut punya usut penyelenggaraan sholat taraweh di masjid Agung sudirman tanpa menunggu hasil keputusan Isbat. Karena para jamaah yakin puasa akan jatuh esok harinya.


Apa jadinya kalau ternyata penetapan awal Ramadhan justru bukan esok hari.?? Entahlah saya hanya berharap pemerintah dalam hal ini kementrian Agama harus membuat kalender bersama melalui para ahli astronomi dan ilmuuan Islam. Sehingga penetapan awal Ramadhan, Idul Fitri, dan Idula Adha bisa dilaksanakan oleh mat Islam di Indonesia secara bersama-sama. Jika dasar pemerintah adalah melalui saksi yang melihat hilal kemudian diambil sumpahnya, ngapain mendengarkan jejak pendapat dari organisasi keagaman. Pemerintah harus buat peraturan yang baku dan harus ditaati bersama oleh seluruh organisasi Islam. 

0 Response to "Sidang Isbat untuk Siapa?"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel