Renungan Untuk Mereka yang Mengaku Aktivis


Jika merujuk pada Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), Aktivis adalah orang yang giat bekerja untuk kepentingan suatu organisasi politik atau organisasi massa lainnya. ia mengabdikan tenaga dan pikirannya, bahkan seringkali mengorbankan harta bendanya untuk mewujudkan cita-cita organisasi. Sedangkan menurut Apakatanurjaya.com Aktivis adalah orang yang dengan suka rela terkudeta waktu dan pikiranya untuk berkarya dalam sebuah organisasi. Aktivis adalah mereka yang komitmen terhadap waktu dan mampu menghargai waktu. Aktivis adalah mereka yang loyal terhadap organisas. ia tak pernah menghitng-hitung sumbangsih yang pernah ia berikan. Aktivis ialah mereka yang komitmen terhadap organisasi. banyak bergerak, banyak berkarya, dan banyak berpikir untuk kesinambungan organisasi.

 Aktivis bukan mereka yang selalu keluyuran malam, nongkrong-nongkrong di warung kopi sambil ngroko berbatang-batang, tidur jam 4.00 pagi terus bangun jam 13.00 siang. aktivis adalah mereka yang tidur jam 22.00 malam dan bangun jam 03,00 pagi untuk sholat tahajud dilanjutkan dengan sholat subuh. inilah yang disebut dengn aktivis. antara habluminanas dan hablumminallah selalu berimbang. Bahkan Sayidina Umar ketika menjadi pemimpin ia jarang tidur. "jika saya tidur di siang hari berarti saya mengabaikan hak rakyat, jika saya tidur dimalam hari berarti saya mengabaikan kewajiban saya kepada Allah" memang kita tidak hidup dizaman  Khalifahur Rosyidin. tapi setidaknya kita mampu meneladani kehidupanya.

Orang yang banyak mengikuti organiasi tapi tidak ada kontribusinya terhadap organisasi yang ia ikuti tak ubahnya dengan segerombolan bebek, ia hanya  mampu mengikuti arus kemana temanya pergi. Orang yang punya jabatan dalam sebuah organisasi tapi tidak ada kontribusinya terhadap organisasi bahkan ia menjual nama organisasinya demi keuntungan pribadi, maka ia tak ubahnya seperti seorang pelacur. Orang-orang dengan watak demikian tak pantas disebut atau mengaku sebagai aktivis. Ia lebih elegan disebut sebagai jongos atau pengekor, karena tidak nampak dalam dirinya jiwa pelopor.


Berorganisasi adalaha menderita, barang siapa yang dengan senang hati dan rela meluangkan waktu dan pikiranya, bahkan harta dan bendanya maka bersiap-siaplah untuk menderita. pendeitaan ini sebagai nilai ibadah kepada Allah Swt. Tentunya akan ada reward baik di dunia dan akhirat. Untuk itu mari kita bersama-sama berproses dalam wadah organisasi masing-masing untuk kepentingan masyarakat luas.  Semua organisasi memiliki tujuan baik. Hanya terkadang oknum didalam organisasi itu sendiri yang kurang baik bahkan menyimpang.  *(Nurjaya)

0 Response to "Renungan Untuk Mereka yang Mengaku Aktivis"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel